Siapa Pun yang Berdiri di Depan adalah Guru
Saya pernah mengikuti sebuah pelatihan. Saat itu, pelatih yang menyampaikan materi terlihat kurang siap. Penguasaan materi terbatas, penyampaian pun terasa grogi dan berputar-putar. Karena sesi ini berlangsung berulang kali, suasana menjadi jenuh. Di tengah kejenuhan itu, seorang teman yang duduk di samping saya mulai “berulah”. Tingkah nakalnya—mengganggu jalannya pelatihan—membuat suasana semakin riuh. Jujur saja, sebagian dari kami mungkin merasa terwakili oleh sikap itu, walau dalam hati. Tak lama kemudian, supervisor kami datang. Pada saat jam istirahat, supervisor tersebut menegur teman kami yang tadi mengganggu, lalu membuka pembicaraan dengan sebuah kalimat sederhana namun sangat dalam maknanya: “Siapa pun yang berdiri di depan adalah guru.” Teman saya langsung menyanggah, “ Tapi dia tidak siap. Bicaranya ngelantur ke mana-mana.” Supervisor kami tersenyum, lalu menyela dengan tenang, “Tetap guru. Paling tidak, dari situ kita belajar satu hal: nanti kalau kita berdiri ...